Safari politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke berbagai daerah kembali menarik perhatian publik. Dalam rangkaian kunjungannya yang intens ke sejumlah wilayah, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep, dilaporkan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, berpendapat bahwa serangkaian kegiatan yang dilakukan Jokowi di berbagai daerah ini memiliki dimensi politik yang cukup dalam. Setelah mengunjungi sejumlah wilayah, termasuk Lampung dan Nusa Tenggara Timur, Jokowi kini melanjutkan perjalanan ke Kebumen, Jawa Tengah.
Rico menjelaskan bahwa aktivitas ini seharusnya dipahami sebagai langkah Jokowi untuk mempertahankan sekaligus memperkuat pengaruh politiknya, khususnya di Pulau Jawa dan lebih khususnya di Jawa Tengah. “Analisa saya, Jokowi ingin menguasai Jawa Tengah setelah Dedi Mulyadi terlihat kuat di Jawa Barat,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Jawa Tengah, menurut Rico, memiliki posisi yang strategis dalam peta politik nasional. Kehadiran Jokowi dalam acara-acara masyarakat dan pesantren tidak hanya berfungsi untuk tujuan sosial, tetapi juga berpotensi untuk menguatkan kembali jaringan politiknya yang telah ada.
Dalam beberapa pidatonya di Jawa Tengah, Jokowi berupaya menjaga citra dirinya sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat serta sebagai pemimpin yang peduli. Namun, Rico mencatat bahwa meskipun intensitas safari politik tersebut tinggi, dampak langsung terhadap elektabilitas PSI, partai yang memiliki kedekatan politik dengan Jokowi, belum terlihat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengukuran Median, elektabilitas PSI saat ini masih berada di angka 1,8 persen. Ini menunjukkan bahwa popularitas serta aktivitas politik yang dilakukan oleh Jokowi belum otomatis berkontribusi pada peningkatan dukungan terhadap partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep.
Rico menyoroti bahwa situasi ini menunjukkan bahwa pengaruh politik pribadi Jokowi dan elektabilitas PSI adalah dua hal yang tidak selalu berjalan seiring. Dengan kata lain, perhatian publik terhadap aktivitas Jokowi tidak serta merta menghasilkan peningkatan dukungan terhadap PSI.
Sementara itu, Median belum melakukan pengukuran secara spesifik terhadap tingkat elektabilitas pribadi Jokowi dalam survei terbaru mereka. Rico menjelaskan bahwa pengukuran elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden juga bukan fokus utama, mengingat secara konstitusional mantan presiden tersebut tidak dapat mencalonkan diri kembali pada Pemilu 2029.
Namun, dia membuka kemungkinan untuk melakukan survei yang lebih khusus di masa mendatang, guna memahami seberapa besar pengaruh politik Jokowi terhadap dukungan masyarakat. “Mungkin lain kali kami akan melakukan survei khusus untuk melihat berapa besar pengaruh politik Jokowi yang sebenarnya,” pungkas Rico.



Komentar