MENTERI PU Dody Hanggodo menginstruksikan jajarannya memastikan pembangunan dan pemulihan infrastruktur pascabencana gempa NTT berlangsung dengan prinsip build back better.
Dengan prinsip itu, menurut Dody Hanggodo semua infrastruktur yang dipulihkan tersebut nantinya akan jadi lebih kokoh hingga lebih tahan terhadap ancaman bencana di masa depan.
“Bangunannya harus kita perkuat karena bagaimanapun ini adalah daerah gempa,” ujar Menteri Dody Hanggodo, dalam rilis yang diterima MACI News Kamis (8/10/2026).
Lebih lanjut, Dody Hanggodo juga menyebutkan bahwa pembangunannya, disesuaikan dengan karakteristik alam setempat di Nusa Tenggara Timur.
“Jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya,” katanya lagi.
Hingga 5 Oktober 2026 kemarin, tercatat Kementerian PU sendiri telah menangani 1.024 infrastruktur penting di Nusa Tenggara Timur yang sebelumnya terdampak gempa NTT Agustus lalu.
Termasuk di antaranya dengan mengerahkan personel dan alat berat untuk memulihkan aksesibilitas serta layanan prasarana vital masyarakat di delapan kabupaten/kota yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Saat ini, infrastruktur-infrastruktur penting dan vital tersebut dipastikan telah 100 persen berfungsi dan beroperasi kembali
Bantu Warga
Selain itu, Kementerian PU juga bergerak membantu sejumlah kebutuhan warga terdampak gempa NTT.
Termasuk di antaranya dengan mengirimkan bantuan air bersih, hingga perlengkapan dan peralatan sanitasi.
Kementerian PU mendistribusikan sarana dan prasarana untuk mendukung kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak tersebut.
Dari total 131 unit sarana dan prasarana tanggap darurat, sebanyak 88 unit telah didistribusikan.
Bantuan tersebut antara lain terdiri atas 15 mobil tangki air, dua mobil vakum tinja, 46 hidran umum, dua toilet portabel.
Termasuk pula di dalamnya 18 velbed, satu biority, tiga tenda, dan satu dump truck.
Perbaiki Fasilitas Pendidikan, Kesehatan hingga Ibadah
Dalam upaya pemulihan infrastruktur terdampak gempa NTT ini, Kementerian PU juga melakukan penanganan terhadap infrastruktur sumber daya air untuk memastikan fungsi layanan tetap berjalan.
Sebanyak dua bendung, satu bendungan, 15 daerah irigasi, dan 15 sumur air baku telah diverifikasi fungsinya.
Selain itu, dua embung, empat pengaman pantai, dan dua infrastruktur sungai turut masuk dalam penanganan dan verifikasi.
Secara keseluruhan, penanganan pada sektor sumber daya air juga telah mencapai 100 persen.
Pada sektor Cipta Karya, penanganan diarahkan untuk menjaga keberlanjutan layanan dasar masyarakat.
Sebanyak 93 SPAM terdampak telah teridentifikasi, dengan 64 di antaranya telah diverifikasi.
Dari 129 bangunan gedung terdampak, sebanyak 86 telah diverifikasi. Sementara itu, dari 10 prasarana sanitasi yang terdampak, enam di antaranya telah diverifikasi.
Untuk sembilan kawasan strategis, penanganan telah mencapai 100 persen.
Sedangkan di sektor prasarana strategis, 651 infrastruktur sejauh ini telah teridentifikasi.
Dengan 644 di antaranya telah diverifikasi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 146 telah melalui proses pembersihan dan 59 lainnya telah mendapat penanganan untuk kerusakan ringan.
Infrastruktur yang terdampak tersebut mencakup 300 fasilitas peribadatan, 112 fasilitas pendidikan, dan 238 fasilitas kesehatan.
Tingkat kerusakan telah diidentifikasi mulai dari rusak ringan, sedang hingga berat sebagai dasar untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Seluruh penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian PU untuk mempercepat pemulihan pascagempa sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan secara bertahap.
Penanganan dilakukan dengan tetap memperhatikan tingkat kerusakan, keberlanjutan fungsi layanan, serta kebutuhan untuk membangun infrastruktur yang lebih aman dan tangguh terhadap risiko bencana. (*)



Komentar