Saat tekanan datang bertubi-tubi, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) disebut memilih tidak reaktif dan lebih dulu merapikan barisan internal Partai Demokrat.
Penilaian itu disampaikan Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan Dr. Vera Hermawan dalam bedah Buku Kepemimpinan AHY di Kanz Cafe, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (30/10/2026).
Dari kacamata komunikasi krisis, Vera menilai AHY mampu meredam tekanan lewat konsolidasi internal, komunikasi berjenjang, dan sikap yang tidak reaktif.
“Situasi krisis itu terkadang membutuhkan pengalaman. Jadi, tidak hanya sebatas kita mendengarkan, tetapi kita harus mengenal istilah daftar inventarisasi masalah,” kata Vera.
Menurutnya, pemimpin tidak cukup mengandalkan respons spontan saat krisis.
Dibutuhkan pengalaman, perencanaan matang, dan kemampuan memetakan persoalan.
Vera juga menyebut soliditas internal sebagai fondasi utama organisasi.
“Perpaduan pengalaman militer dan sipil turut membentuk kapasitas kepemimpinan yang tangguh, terukur, dan tidak reaktif,” ujarnya.
Diskusi ini diinisiasi Sinergi Generasi Muda (SIGMA) bersama Bandung Renaissance Forum (BRIF) untuk mengajak anak muda menggali esensi kepemimpinan di tengah realitas yang kerap direduksi menjadi popularitas di media sosial.
Penyunting buku sekaligus Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Dr. Herzaky Mahendra Putra mengatakan, buku ini hasil telaah 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda.
“Penyunting bersama 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda Indonesia memiliki gagasan bersama untuk menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah diskursus terbuka. Kami ingin membangun ruang diskusi yang ditelaah secara kritis berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar manis narasi para buzzer belaka,” ungkap Herzaky.
Buku ini diluncurkan perdana pada 23 September 2026 di Menteng, Jakarta, sebagai kejutan ulang tahun AHY yang disiapkan tanpa sepengetahuannya. Peluncurannya dihadiri antara lain Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rocky Gerung.



Komentar