Nama KH Hasan Abdullah Sahal belakangan ini mencuri perhatian publik setelah pidatonya yang viral saat acara resepsi peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Pidato tersebut berlangsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan ribuan tamu undangan lainnya, di mana gaya penyampaian Kiai Hasan yang lugas disertai humor berhasil mengundang tawa dan applause dari para hadirin.
Salah satu pernyataan yang mencolok dalam pidato itu adalah ketika Kiai Hasan membahas fenomena orang-orang yang suka “cari muka”. Ia mengemukakan berbagai perumpamaan, mulai dari individu yang tidak memiliki ijazah tetapi berusaha mencarinya, hingga orang yang tidak memiliki jabatan tetapi berupaya untuk mendapatkannya. Pernyataan ini disampaikan dalam suasana penuh tawa, terutama saat Kiai Hasan mengarahkan candaan tersebut langsung kepada Presiden Prabowo.
KH Hasan Abdullah Sahal terlahir di Desa Gontor pada tanggal 24 Mei 1947. Sebagai anak keenam dari KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, beliau tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang kaya. Bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi, KH Ahmad Sahal merupakan bagian dari Trimurti yang mengawali perjalanan Gontor sejak berdirinya pada 20 September 1926.
Dengan latar belakang keluarga yang kuat dalam dunia pendidikan pesantren, Hasan Abdullah Sahal menempuh pendidikan dasar di Gontor hingga tahun 1959 dan kemudian melanjutkan ke Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) di Pondok Modern Gontor. Ia menyelesaikan KMI pada tahun 1965 dan melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang kini menjadi bagian dari sejarah pendidikan tinggi di Gontor.
Tak hanya aktif belajar, Hasan Abdullah Sahal juga mengabdikan diri sebagai pengajar di KMI Gontor selama sekitar dua setengah tahun. Pada tahun 1967, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin di Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi. Perjalanan akademisnya tidak berhenti di situ; pada tahun 1992, Kiai Hasan mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Pengalaman pendidikan yang mendalam ini menjadi landasan penting dalam perjalanan Kiai Hasan sebelum memegang kepemimpinan di Gontor. Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan dakwah dan seminar di beberapa negara yang menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan ilmu dan pendidikan.
Kepemimpinan Hasan Abdullah Sahal di Pondok Modern Darussalam Gontor dimulai pada tahun 1985. Setelah wafatnya KH Imam Zarkasyi, Badan Wakaf Gontor menunjuk tiga pimpinan baru, termasuk KH Hasan Abdullah Sahal. Sejak saat itu, Kiai Hasan terus berkontribusi dalam kepemimpinan Gontor, kini bersama Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi dan KH Muhammad Akrim Mariyat.
Di samping perannya di Gontor, Kiai Hasan juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper di Ponorogo pada tahun 1989 dan Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang pada tahun 1992. Selain itu, ia adalah seorang pengajar dan penulis produktif, dengan sejumlah karya yang dihasilkan, seperti Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori’, serta Ceramah-ceramah Kontemporer.
Kiai Hasan kembali menjadi sorotan publik setelah pidato yang disampaikannya pada puncak acara peringatan 100 tahun Gontor. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan candaan kepada Presiden Prabowo sembari mengaitkannya dengan fenomena “cari muka”. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya integritas dan kejujuran, serta menjelaskan bahwa pimpinan tidak seharusnya hidup lebih mewah dibandingkan dengan santri.
Pernyataan tersebut menciptakan resonansi yang kuat di kalangan audiens, mengingat acara ini dihadiri oleh berbagai pejabat, tokoh pendidikan, dan alumni Gontor. Pidato tersebut menjadi viral, tidak hanya karena konteks humorisnya, tetapi juga karena nilai-nilai yang disampaikannya mengenai kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
Di luar popularitasnya dalam pidato tersebut, sosok Kiai Hasan memiliki perjalanan yang panjang dan berharga dalam dunia pendidikan dan kepemimpinan pesantren. Selama lebih dari empat dekade, ia telah berperan aktif dalam pengembangan Gontor dan berbagai lembaga pendidikan lainnya, menjadikannya sebagai figur inspiratif di kalangan masyarakat.



Komentar