Produksi padi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2026 diproyeksikan mencapai 1,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah tersebut meningkat sekitar 18,52 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan realisasi produksi pada 2025.
Peningkatan produksi ini menunjukkan pentingnya dukungan infrastruktur sumber daya air dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Ketersediaan air yang cukup menjadi salah satu faktor utama untuk menunjang produktivitas lahan, terutama melalui bendungan, bendung, serta jaringan irigasi yang berfungsi optimal.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram terus memperkuat penyediaan infrastruktur sumber daya air
melalui pembangunan, rehabilitasi, operasi, dan pemeliharaan sarana pengairan.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) yang meliputi pembangunan sumur bor dan peningkatan jaringan irigasi. Program ini diarahkan untuk memperluas layanan air bagi lahan pertanian, sekaligus membantu wilayah yang masih menghadapi keterbatasan pasokan air.
Selain program tersebut, BBWS Nusa Tenggara I Mataram juga melaksanakan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI). Program ini mendorong keterlibatan petani dalam perbaikan dan peningkatan jaringan irigasi melalui pendekatan partisipatif.
Melalui berbagai program tersebut, infrastruktur pengairan diharapkan semakin mampu memenuhi kebutuhan air pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat tani.
Penguatan infrastruktur sumber daya air menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di NTB. Ketersediaan air yang berkelanjutan dan pengelolaan irigasi yang optimal diharapkan turut meningkatkan kesejahteraan petani.


Komentar