Presiden Joko Widodo kembali mendapatkan undangan untuk berpartisipasi dalam acara masyarakat adat Dayak. Kali ini, undangan itu disampaikan oleh Panglima Jilah, Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR), saat bertemu dengan Jokowi di kediamannya di Sumber, Banjarsari.
Panglima Jilah mengundang Jokowi untuk menghadiri acara adat Bahau Bide Bahana Bangkule Rajakng yang direncanakan berlangsung pada 22 Agustus mendatang di Kalimantan. Acara ini diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 20.000 peserta, menjadikannya sebagai pertemuan besar bagi masyarakat adat.
“Sudah ada agenda kita di tanggal 22 Agustus. Bahau Bide Bahana, Bangkule Rajakng. Itu pertemuan besar, 20.000 lebih pesertanya,” ungkap Panglima Jilah.
Menurut Panglima Jilah, kehadiran Jokowi dalam acara ini bersifat khusus dan tidak terkait dengan agenda kunjungan presiden ke beberapa daerah lainnya. “Bukan (agenda keliling), khusus. Nggak ada sangkut pautnya dengan agenda Bapak keliling. Ini memang khusus acara adat saja,” tegasnya.
Panglima Jilah menjelaskan bahwa undangan tersebut ditujukan kepada Jokowi sebagai bentuk kedekatan dan rasa cinta masyarakat Dayak terhadapnya. Ia mencatat bahwa selama masa kepresidenannya, Jokowi telah menunjukkan perhatian yang signifikan terhadap pembangunan di wilayah Kalimantan.
“Kecintaan masyarakat Dayak dengan beliau. Selama beliau menjadi Presiden, beliau banyak membangun kita juga di sana. Itu saja,” kata Panglima Jilah.
Saat ini, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai kemungkinan agenda lain dalam pertemuan tersebut. Panglima Jilah juga tidak memberikan rincian ketika ditanya mengenai kemungkinan pemberian gelar adat kepada Jokowi.
Walaupun acara ini disebut sebagai agenda adat, perhatian masyarakat tetap tertuju pada pertemuan ini, terutama karena berlangsung di tengah aktivitas Jokowi yang semakin sering terlihat di berbagai daerah. Kehadiran mantan presiden dalam sejumlah kegiatan masyarakat tidak hanya memiliki dimensi sosial dan budaya, tetapi juga bisa berimplikasi pada aspek politik.
Interaksi dengan kelompok masyarakat yang besar berpotensi untuk membangun kembali jaringan dan meningkatkan popularitas seorang tokoh. Oleh karena itu, muncul pertanyaan mengenai apakah kunjungan Jokowi ke berbagai daerah tersebut bisa dianggap sebagai safari politik, terutama jika melibatkan tokoh masyarakat atau kelompok dengan basis massa yang besar.
Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan atau bukti yang menunjukkan bahwa undangan Panglima Jilah ini merupakan bagian dari agenda politik Jokowi. Hal ini menambah kompleksitas dalam memahami konteks di balik undangan tersebut dan peran Jokowi dalam acara adat yang akan datang.



Komentar