Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan penataan kawasan Pulau Penyengat sebagai agenda utama. Pengembangan area Cagar Budaya Nasional ini dianggap penting untuk memperkuat daya tarik wisata sejarah, budaya, dan religi dengan meningkatkan aksesibilitas serta fasilitas yang ada.
Menteri PU, Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa revitalisasi kawasan ini akan melibatkan pembangunan infrastruktur pendukung yang signifikan, termasuk monumen bahasa nasional. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata dan pelestarian warisan budaya di Pulau Penyengat.
Proyek ini mencakup renovasi Balai Adat beserta pelatarannya serta perbaikan Dermaga atau Pelantar Kuning yang terletak di dua sisi, yaitu Tanjungpinang dan Pulau Penyengat. “Kita dukung penuh karena Pulau Penyengat ini punya histori yang cukup panjang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pembangunan infrastruktur Pulau Penyengat jadi salah satu prioritas kita pada 2026 dan 2027,” jelas Menteri Dody saat melakukan kunjungan langsung ke Pulau Penyengat.
Sebelumnya, di tahun 2025, Kementerian PU telah melaksanakan beberapa pekerjaan penataan kawasan Pulau Penyengat. Langkah-langkah tersebut antara lain meliputi pengembangan Pelataran Plaza Tamadun Melayu, Pelataran Balai Adat Indera Perkasa, serta peningkatan kualitas jalan lingkungan.
Inisiatif yang telah dilakukan mencakup pelebaran koridor jalan lingkungan, pembangunan fasilitas jalur pejalan kaki, perbaikan sistem drainase, serta penyediaan utilitas, tempat berteduh, dan ruang terbuka publik. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman sekaligus memberikan kenyamanan lebih baik bagi penduduk lokal dan pengunjung.
Infrastruktur dasar sangat krusial di Pulau Penyengat, karena pariwisata di wilayah ini berjalan seiring dengan pemukiman dan berbagai situs bersejarah yang ada. Terhadap penataan lebih lanjut, Kementerian PU telah menetapkan beberapa lokasi strategis yang akan menjadi fokus utama dalam periode 2026 hingga 2027.
Di dalam rencana tersebut, Balai Adat akan kembali dibenahi, sementara Masjid Sultan Riau juga akan mendapatkan perawatan melalui pengecatan. Selain itu, Pelantar Kuning Penyengat dari kedua sisi, yaitu di Tanjungpinang dan Pulau Penyengat, juga akan mendapatkan perbaikan.
Mengingat akses ke Pulau Penyengat sangat bergantung pada transportasi laut, Kementerian PU akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Perhubungan. Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung kelancaran aksesibilitas dan transportasi menuju Pulau Penyengat, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengunjungi kawasan ini.
Selain itu, Menteri Dody juga meminta Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk berperan aktif dalam menjaga dan mengelola aset yang dihasilkan dari penataan kawasan. Aset-aset tersebut telah diserahterimakan melalui hibah Barang Milik Negara (BMN), dan pemeliharaan yang baik sangat diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Pemeliharaan diperlukan untuk memastikan aset dapat dimanfaatkan secara optimal, terpelihara, berfungsi secara berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung pengembangan kawasan Pariwisata Pulau Penyengat,” tegas Menteri Dody.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Pulau Penyengat dapat menjadi destinasi wisata yang lebih menarik dan nyaman, serta tetap melestarikan warisan budaya yang ada. Dukungan infrastruktur dan pemeliharaan yang baik akan berkontribusi pada keberlangsungan pariwisata dan kualitas hidup masyarakat setempat.



Komentar