Kementerian Transmigrasi mendorong perubahan besar dalam paradigma pembangunan kawasan transmigrasi. Transformasi ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar perpindahan penduduk, melainkan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dalam hal ini, fokus utamanya adalah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas pasar, serta menarik investasi.
Prof. Soner Başkaya, Guru Besar Ekonomi di Adam Smith Business School, University of Glasgow, mengungkapkan bahwa pendekatan ini sangat sesuai dengan dinamika perubahan ekonomi dan geopolitik yang terjadi secara global. Dalam pandangannya, posisi strategis Indonesia, yang cenderung netral dalam politik serta kaya akan sumber daya alam, memberikan peluang besar untuk perkembangan kawasan transmigrasi.
“Transmigrasi sebagai the right programme at the right time,” ungkap Başkaya saat berpartisipasi dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) yang mengangkat tema “Dari Transmigrasi Menuju Transformasi Regional yang Produktif”.
Dia menekankan bahwa investasi tidak hanya sekadar menghadirkan modal, namun harus membawa dampak signifikan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, pertumbuhan usaha lokal, dan perluasan akses pasar. Oleh karena itu, kawasan transmigrasi sangat membutuhkan dukungan dalam bentuk pusat pengolahan, logistik, pembiayaan, teknologi, serta ekosistem inovasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus menjadi prioritas sebelum mobilitas penduduk dilakukan. Dia berpendapat, masyarakat akan bersedia datang ke kawasan transmigrasi jika tempat tersebut menawarkan pekerjaan, peluang usaha, infrastruktur memadai, serta prospek kehidupan yang lebih baik.
“Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dahulu lalu berharap peluang ekonomi menyusul,” tegas Iftitah.
Dalam upaya mengimplementasikan paradigma baru ini, pemerintah meluncurkan lima program unggulan, yaitu Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusantara, dan Trans Gotong Royong. Setiap program diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kawasan transmigrasi.
Iftitah juga menekankan bahwa keberhasilan transmigrasi kini diukur dari adanya nilai tambah, penciptaan pekerjaan produktif, peningkatan pendapatan, pertumbuhan usaha lokal, dan kemandirian kawasan. Dengan demikian, investasi dan industri perlu tumbuh, tetapi tidak kalah penting adalah pertumbuhan nilai tambah, penciptaan pekerjaan, pengetahuan, serta kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
“Investasi dan industri perlu tumbuh, tetapi nilai tambah, pekerjaan, pengetahuan, serta kesejahteraan juga harus tumbuh di daerah tersebut,” tambahnya menekankan pentingnya keseimbangan antara investasi dan dampaknya bagi masyarakat.



Komentar