PEMENUHAN Kebutuhan dasar masyarakat di lokasi terdampak bencana menjadi satu di antara instruksi Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU) Dody Hanggodo kepada jajarannya di Kementerian PU.
Satu di antaranya yang jadi sorotan Dody Hanggodo dalam upaya penanganan pascabencana adalah tersedianya air bersih yang jadi satu di antara kebutuhan dasar warga.
Terbaru, Kementerian PU menyediakan 24 unit Hidran Umum (HU) berkapasitas 2.300 liter per unit.
Serta 2 sumur dalam di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penyediaan 2 sumur dalam dan 24 HU di Pulau Palue NTT ini, adalah satu di antara langkah Kementerian PU sesuai arahan Dody Hanggodo untuk upaya percepatan penanganan pascabencana gempa Flores, NTT.
“Penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali mengakses kebutuhan dasar, termasuk air bersih,” ujar Menteri PU Dody Hanggodo sebagaimana rilis yang diterima MACI News, Rabu (28/10/2026).
Lebih lanjut, Dody Hanggodo mengungkapkan, Upaya penyediaan air melalui sumur dalam dan hidran umum diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa pemulihan.
Pembangunan 2 Sumur dalam dan Hidran Umum di NTT ini, kali ini dijalankan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II.
Saat ini sebanyak 1 titik sedang progress pengerjaan, sedangkan 1 titik lainnya masih dalam proses mobilisasi alat.
Pekerjaan ini ditujukan untuk menambah ketersediaan sumber air baku yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat di wilayah terdampak bencana.

PENUHI KEBUTUHAN DASAR – Unit Hidran Umum yang dikirimkan BWSK NTT ke warga. Kementerian PU menjalankan instruksi Menteri Dody Hanggodo dalam upaya pemenuhan dasar warga terdampak bencana di NTT dengan menghadirkan 2 sumur dalam serta 24 Hidran Umum. Berikut detailnya, Rabu (28/10/2026). OFFICIAL BIRO KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PU/REPRO
Pulau Palue merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sikka yang terdiri atas 8 desa dan berada di kawasan gunung api aktif Rokatenda.
Keterbatasan sumber air alami di wilayah kepulauan tersebut menyebabkan masyarakat menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Oleh karena itu, penyediaan sumber air menjadi salah satu prioritas dalam mendukung pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana gempa Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Selain pengeboran sumur, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) NTT turut menyediakan 24 unit HU berkapasitas 2.300 liter per unit.
Perakitan hidran umum telah dimulai sejak 5 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat sembari menunggu penyelesaian pembangunan sumur dalam.
Sumur yang dibangun memiliki kedalaman rata-rata sekitar 100 meter dan diameter lebih dari 4 inci.
Penentuan kedalaman pengeboran dilakukan berdasarkan survei geolistrik untuk mengidentifikasi potensi sumber air tanah.
Setiap sumur direncanakan dilengkapi pompa submersible, rumah tenaga listrik, reservoir atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum untuk mendukung penampungan dan distribusi air.
Debit air yang ditargetkan lebih dari 2 liter per detik.
Melalui penyediaan sumur dalam dan hidran umum, Kementerian PU berkomitmen mendukung pemulihan pascabencana di Pulau Palue sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap air bersih secara bertahap dan berkelanjutan. (*)



Komentar