Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mengerahkan 13 unit pompa untuk memenuhi kebutuhan air pertanian di enam kabupaten yang tersebar di Jawa Timur. Inisiatif ini merupakan respon terhadap hasil pemantauan kondisi lapangan yang dilakukan pada 30 September hingga 1 Oktober 2026, yang mencakup sekitar 120 hektare lahan pertanian di kabupaten Jombang, Jember, Tulungagung, Bangkalan, Pamekasan, dan Trenggalek.
Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi spesifik masing-masing wilayah serta ketersediaan sumber air. Selain melakukan pompanisasi, Kementerian PU juga melaksanakan pengeboran sumur dangkal di beberapa lokasi guna menjaga pasokan air untuk tanaman selama musim kemarau yang diperkirakan cukup panjang.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kekeringan, dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air yang tersedia. “Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap Menteri Dody.
Di Kabupaten Jombang, upaya penanganan mencakup sekitar 71 hektare sawah yang terletak di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito. Pompanisasi dilaksanakan untuk lahan yang sudah memasuki masa tanam ketiga (MT3), di mana tanaman belum masuk dalam fase panen. Air yang digunakan berasal dari sumur bor, dengan pompa yang dioperasikan selama hingga 12 jam setiap hari.
Sementara itu, di Kabupaten Jember, BBWS Brantas turut berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan air untuk sekitar 4 hektare lahan di Desa Mayangan dan Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Lahan tersebut ditanami padi dan cabai rawit, dengan pengairan yang telah dilaksanakan dan kondisi lahan yang relatif aman.
Di Kabupaten Tulungagung, penanganan juga dilakukan pada sekitar 30 hektare lahan yang terletak di Desa Sembon, Kecamatan Karangrejo. Tanaman sudah ditanam dan belum mencapai masa panen. Selain pompanisasi, BBWS Brantas bekerja sama dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPA) dan kelompok tani untuk mengusulkan pembangunan sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), yang diharapkan dapat memperkuat pasokan air.
Berkaitan dengan situasi di Kabupaten Bangkalan, penanganan kekeringan dilakukan melalui pengeboran sumur dangkal di tiga titik strategis. Langkah ini bertujuan untuk mendukung pengairan sekitar 2 hektare lahan di Desa Kramat. Dari tiga titik tersebut, dua sumur telah selesai dikerjakan, sedangkan satu titik masih dalam proses penyelesaian.
Di Kabupaten Pamekasan, Kementerian PU telah memasang pompa submersible untuk mendukung pengairan sekitar 3 hektare lahan di Desa Pangorayan, Kecamatan Proppo. Pompa ini sudah terpasang dan siap untuk dioperasionalkan. Sedangkan di Kabupaten Trenggalek, pompa Alkon digunakan untuk mengalirkan air ke sekitar 10 hektare sawah di Desa Prambon, Kecamatan Tugu. Pompa ini mengambil sumber air dari Sungai Brantas dan direncanakan akan beroperasi selama tiga bulan untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi yang sedang dalam masa tanam ketiga (MT3).
Secara keseluruhan, program penanganan di enam kabupaten tersebut melibatkan sekitar 120 hektare lahan pertanian dengan dukungan 13 unit pompa dan pengeboran sumur dangkal. Setiap penanganan disesuaikan dengan kondisi tanaman, ketersediaan sumber air, kebutuhan pengairan, serta situasi jaringan dan infrastruktur sumber daya air di masing-masing wilayah.
Kementerian PU, melalui BBWS Brantas, berkomitmen untuk terus melakukan koordinasi dengan HIPA, kelompok tani, dan pemerintahan daerah setempat. Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan bahwa sarana yang telah dikerahkan dapat digunakan secara optimal dan menjaga keberlanjutan pasokan air untuk lahan pertanian di tengah tantangan musim kemarau yang akan datang.



Komentar