Pertanyaan publik mengenai alasan Joko Widodo (Jokowi) baru menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akhirnya mendapat jawaban.
Namun, alih-alih memberikan penjelasan panjang, mantan Presiden RI itu justru menjawab dengan kalimat singkat: “Suka-suka saya dong.”
Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI baru-baru ini.
Di hadapan para kader PSI, Jokowi mengaku sering kali mendapat pertanyaan mengenai keputusannya untuk baru memperlihatkan kartu keanggotaan partai tersebut kepada publik.
Bagi Jokowi, tidak ada persoalan mengenai waktu pengumuman, karena KTA tersebut adalah miliknya sendiri.
“Banyak yang bertanya kok baru ditunjukkan sekarang, ya kan suka-suka saya dong, kan ini kartu milik saya, bahwa saya tunjukkan di Bandung dan Bekasi ini karena momentumnya memang sekarang,” ucap Jokowi.
Jawaban tersebut seolah menutup ruang pertanyaan lebih jauh. Menurut Jokowi, kapan kartu ditunjukkan sepenuhnya adalah hak pemiliknya.
Publik pun hanya mendapatkan penjelasan bahwa saat ini memang dirasa tepat.
Jokowi kemudian mengulas bahwa keputusan untuk memperlihatkan KTA PSI berkaitan erat dengan momentum politik yang ada.
Pertemuan dengan kader PSI di Bandung dan Kabupaten Bekasi disebutnya sebagai kesempatan yang tepat untuk menunjukkan keanggotaan tersebut.
“Politik ini kan momentum, momentumnya pas kan ya saya tunjukkan sekarang,” ujar Jokowi.
Pernyataan ini menarik perhatian, mengingat Jokowi telah menjadi anggota PSI sejak 14 Oktober 2025.
Namun, kartu keanggotaannya baru diperlihatkan secara terbuka dalam serangkaian kegiatan partai pada September 2026.
Dengan demikian, keanggotaan yang sudah berlangsung sejak tahun sebelumnya kini baru memperoleh sorotan publik melalui dua agenda konsolidasi PSI di Bandung dan Bekasi.
Jokowi menekankan bahwa hal ini merupakan persoalan momentum.
Sementara itu, bagi publik yang menunggu penjelasan, jawaban itu memberikan satu hal sederhana: alasan keterlambatan pengumuman ternyata tidak lebih dari keputusan pribadi untuk memilih waktu yang dianggap paling tepat.
Dalam acara tersebut, Jokowi juga melontarkan guyonan kepada kader yang tidak setuju dengan keanggotaannya di PSI.
Ia menawarkan hadiah sepeda bagi siapa saja yang berani menyatakan ketidaksetujuan secara langsung.
“Siapa setuju saya memiliki kartu ini? Ada yang tidak setuju, maju, saya beri sepeda,” canda Jokowi.
Ucapan tersebut disambut tawa oleh para kader yang hadir. Suasana Rakorda pun berlangsung santai, meski diskusi berkisar pada identitas politik mantan orang nomor satu di Indonesia.
Dengan langkah ini, Jokowi menunjukkan sisi humoris sekaligus mengedepankan momen kebersamaan di antara kader PSI. Sebuah metode yang bisa jadi efektif untuk membangun solidaritas di dalam partai.
Secara keseluruhan, sikap Jokowi ini menggambarkan pendekatan yang lebih santai dan terbuka dalam berpolitik, dan meredakan ketegangan yang mungkin muncul dari keputusan politik yang diambilnya.
Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak politisi lain tentang pentingnya komunikasi yang baik dengan basis massa dan bagaimana momentum bisa dimanfaatkan secara strategis dalam politik.



Komentar