Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berkomitmen untuk menjamin ketersediaan layanan air bagi lahan pertanian di tengah tantangan kekeringan yang berpengaruh pada pasokan air di sektor pertanian. Hingga 24 September 2026, jaringan irigasi serta lahan tadah hujan yang beroperasi di daerah tersebut telah berhasil menjangkau sekitar 3.450 hektare.
Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, kementerian ini berupaya memaksimalkan sumber air yang ada dengan cara mengoperasikan pompa air, mendistribusikan air langsung ke lahan-lahan yang terdampak, dan meningkatkan kelancaran aliran sungai melalui normalisasi serta pelebaran alur sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo menggarisbawahi bahwa air adalah kebutuhan dasar yang harus diusahakan ketersediaannya, terutama ketika beberapa daerah menghadapi permasalahan kekeringan. Penanganan dilakukan dengan memperhatikan kondisi serta kebutuhan di lapangan agar dukungan dapat diberikan secara efektif dan tepat waktu.
“Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” ungkap Menteri Dody.
Di Kecamatan Sugio, sekitar 93 hektare dari total 94 hektare lahan yang memerlukan air sudah mendapatkan pelayanan air. Sementara itu, satu hektare lainnya masih dalam proses distribusi air bertahap hingga semua kebutuhan air terpenuhi dan hasil panen dapat dilakukan.
Untuk mendukung lahan yang mengalami kesulitan dalam pasokan air, BBWS Bengawan Solo juga melaksanakan distribusi air secara langsung. Contohnya, pada Kamis (24/9), di Dusun Lawangan, Desa Lawanganagung, Kecamatan Sugio, sebanyak 18.000 liter air disalurkan menggunakan dua unit dump truck. Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air di lahan sawah yang terdampak kekeringan seluas sekitar 0,13 hektare.
Disamping itu, BBWS Bengawan Solo juga menggunakan pompa untuk meningkatkan debit air dari Sungai Bengawan Solo menuju Sungai Blawi. Inisiatif ini mendukung penyediaan air bagi lahan pertanian di beberapa daerah seperti Kecamatan Deket, Glagah, Turi, Karangbinangun, dan Kalitengah, dengan total luas area sekitar 3.356 hektare.
Untuk mendukung kelancaran aliran menuju jaringan irigasi, Kementerian PU melaksanakan pelebaran dan normalisasi alur Sungai Deket. Hingga 24 September 2026, progres pelebaran telah mencapai sekitar 2,1 kilometer dari total rencana sepanjang 4 kilometer. Langkah ini diambil untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas aliran air yang sangat dibutuhkan dalam sektor pertanian.
Selain itu, Kementerian PU menerapkan sistem distribusi air dengan jadwal giliran pelayanan. Pengaturan ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan air serta memastikan bahwa pasokan dapat menjangkau lahan pertanian secara lebih merata, sehingga semua petani dapat merasakan manfaatnya.
Upaya penanganan kekeringan di Kabupaten Lamongan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan situasi ketersediaan air serta kebutuhan para petani. Melalui pemanfaatan infrastruktur irigasi dan optimalisasi sumber air, Kementerian PU bertekad untuk menjaga agar lahan pertanian tetap mendapatkan layanan air yang cukup, sehingga kegiatan budidaya dan produksi pangan dapat terus berjalan meskipun di tengah kondisi kekeringan.



Komentar