Berita Nasional
Beranda / Berita Nasional / Kabut Asap Makin Pekat, Pemkot Pontianak Liburkan Sekolah dan Catat Kasus ISPA Meningkat

Kabut Asap Makin Pekat, Pemkot Pontianak Liburkan Sekolah dan Catat Kasus ISPA Meningkat

Kabut Asap Makin Pekat, Pemkot Pontianak Liburkan Sekolah dan Catat Kasus ISPA Meningkat

Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi masalah serius, mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Fenomena ini berdampak negatif pada kualitas udara, yang memaksa pemerintah setempat untuk mengambil tindakan tegas.

Pemerintah Kota Pontianak akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara pembelajaran tatap muka bagi siswa di tingkat TK, PAUD, SD, dan SMP. Keputusan ini diambil setelah pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang tidak sehat, terutama pada malam hingga dini hari.

Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, menyampaikan bahwa konsentrasi partikel udara di wilayah Pontianak Tenggara sempat mencapai angka tinggi, yaitu di atas 200 mikrogram per meter kubik pada malam hari. “Kabut asap sudah menyelimuti Kota Pontianak. Berdasarkan hasil pantauan alat pengukur kualitas udara Kota Pontianak yang berada di Kecamatan Pontianak Tenggara, kondisi udara tadi malam sekitar pukul 21.00 hingga 23.00 WIB berada dalam kategori tidak sehat,” ujarnya.

Meski kondisi udara mengalami perbaikan menjadi kategori sedang pada pukul 08.00 WIB, pemerintah tetap mengambil langkah pencegahan. Edi menjelaskan bahwa partikel asap cenderung lebih dekat dengan permukaan pada malam hingga pagi, sehingga menyebabkan kualitas udara memburuk secara signifikan.

“Hal ini menyebabkan kualitas udara pada malam hingga subuh hari menjadi sangat buruk, bahkan sampai dinyatakan tidak sehat,” tegasnya.

Tokoh Pers Sarankan Perubahan Nama RUU Perampasan Aset agar Tidak Menjadi Legalitas Perampasan

Menanggapi dampak dari kabut asap, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat mengeluarkan surat edaran yang meminta sekolah-sekolah di bawah naungan pemerintah kota untuk menghentikan sementara aktivitas pembelajaran tatap muka.

Siswa TK, PAUD, SD, dan SMP kini dialihkan untuk mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah. Kebijakan ini tidak memiliki batas waktu yang pasti dan akan terus dievaluasi berdasarkan perubahan kualitas udara yang terjadi.

“Libur sekolah kita lakukan sambil menunggu perkembangan kondisi kualitas udara membaik. Kalau masih berada dalam kategori sedang, kita akan menormalkan kembali kegiatan pembelajaran,” ungkap Edi.

Pemerintah juga meminta masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya anak-anak yang lebih rentan terhadap dampak asap. Bagi mereka yang harus beraktivitas di luar, disarankan untuk memakai masker guna melindungi diri.

Selain dampak pada pendidikan, kabut asap juga mempengaruhi kesehatan masyarakat. Tercatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi sorotan pemerintah setempat.

Warisan AHY di Kementerian ATR/BPN: Transformasi Digital dan Capaian Strategis yang Bertahan hingga Kini

Menurut laporan awal dari Dinas Kesehatan, kasus ISPA mengalami kenaikan sekitar lima persen. Evaluasi masih dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi buruknya kualitas udara terhadap peningkatan kasus ini.

“Untuk sementara, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan, terjadi kenaikan sekitar lima persen. Nanti kita akan mengetahui lebih lanjut seberapa besar pengaruh kondisi ini terhadap penderita ISPA,” jelas Edi.

Pemerintah juga telah meminta fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas, untuk mempersiapkan oksigen sebagai langkah antisipasi jika terjadi lonjakan jumlah pasien dengan masalah pernapasan.

Masyarakat diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala ISPA, terutama ketika kabut asap semakin menebal.

Agus Harimurti Yudhoyono AHY Dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Kabinet Merah Putih RI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan