Viral
Beranda / Viral / Operator SPBU Bali Menangis Minta Buka 24 Jam: “Saya Bukan Robot!”

Operator SPBU Bali Menangis Minta Buka 24 Jam: “Saya Bukan Robot!”

Operator SPBU Bali Menangis Minta Buka 24 Jam: "Saya Bukan Robot!"

Seorang operator perempuan di SPBU 54.801.48, Jalan Diponegoro, Denpasar, Bali, menangis saat menyampaikan keluhannya ketika Gubernur Bali Wayan Koster melakukan kunjungan di tengah krisis bahan bakar minyak (BBM).

Dalam situasi sulit ini, ia mengungkapkan rasa lelahnya akibat harus bekerja lebih dari jam kerja normal. Permintaan agar SPBU beroperasi selama 24 jam untuk mengatasi antrean kendaraan membuatnya merasa tertekan.

“Saya bukan robot, saya juga capek, Pak. Iya, saya pegawai, tapi saya punya hak juga,” ungkapnya dengan air mata, sebagaimana dilaporkan oleh detikBali.

Peristiwa ini berlangsung pada Rabu malam, ketika Gubernur Koster mengunjungi SPBU tersebut sekitar tengah malam. Para operator yang bertugas merasa terkejut dengan permintaan untuk memperpanjang jam operasional, sementara mereka sudah bekerja cukup keras hingga melewati waktu kerja yang ditentukan.

Rekan-rekan operator dan beberapa orang yang berada di lokasi berusaha menenangkan operator yang terbawa emosi tersebut.

Video Pria Masturbasi di Depan Perempuan di Tangsel Viral, Polisi Belum Menerima Laporan

Tria, admin di SPBU 54.801.48, menjelaskan bahwa mereka saat ini menghadapi masalah terkait kekurangan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan operasional 24 jam di tengah meningkatnya kebutuhan akan BBM dari masyarakat.

Tria juga menyampaikan bahwa seluruh operator di SPBU tersebut adalah perempuan. Bahkan, satu di antara mereka masih dalam masa menyusui, yang tentu saja menambah beban kerja mereka.

“Kan mereka jadi kaget (diminta buka 24 jam), apalagi ada satu operator saya itu masih menyusui,” kata Tria saat ditemui di SPBU Jalan Diponegoro.

Di SPBU tersebut, terdapat 12 operator yang bertugas. Dalam kondisi normal, biasanya lima orang bertugas pada setiap sif, dengan dua sif kerja setiap hari. Namun, setelah terjadinya krisis BBM, mereka terpaksa bekerja lebih lama dari jadwal yang sudah ditentukan.

Situasi ini membuat pengelola SPBU kesulitan dalam merancang penggantian petugas dengan cepat. Peningkatan antrean kendaraan yang signifikan membuat mereka harus mencari solusi untuk memastikan pelayanan tetap berjalan meskipun dalam keadaan yang tidak ideal.

KPK Sita Rp800 Juta dari Kuasa Hukum Hercules Terkait Kasus Suap HGB Summarecon

Pada awalnya, sebelum terjadinya krisis bahan bakar, SPBU tersebut beroperasi dari pukul 06.00 hingga 23.00 WITA. Namun, lonjakan permintaan membuat mereka harus menyesuaikan waktu operasional yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental para operator yang bekerja di sana.

Dengan beban kerja yang semakin meningkat, penting bagi pihak pengelola untuk mempertimbangkan aspek kesejahteraan para pekerja. Keberlangsungan operasional SPBU harus seimbang dengan hak-hak pekerja agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mereka.

Langkah-langkah yang tepat perlu diambil untuk mengatasi krisis ini, termasuk mencari tambahan tenaga kerja dan memberikan perhatian lebih pada kebutuhan operator yang sudah ada. Kesehatan dan keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama agar mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dalam situasi yang menantang seperti ini.

Melihat kondisi ini, dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Dengan adanya perhatian yang lebih terhadap kondisi kerja, diharapkan operator SPBU dapat bekerja dengan lebih baik dan tidak merasa tertekan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

KPK Tidak Menahan Sestama BNPB Rustian, Berikut Alasan Penyidik!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan