Istilah abuleke tiba-tiba menjadi sorotan publik setelah Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menggunakannya dalam konteks kritik terhadap tuduhan yang mengaitkan dirinya dengan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Penggunaan kata ini mengisyaratkan penolakannya terhadap tudingan yang dianggapnya tidak berdasar dan tidak logis.
Kata yang berasal dari bahasa daerah di Indonesia Timur ini digunakan oleh Bahlil untuk mengekspresikan pendapatnya tentang tuduhan yang menurutnya tidak masuk akal. Dalam konteks ini, abuleke berarti sesuatu yang tidak dapat dipercaya, mirip dengan istilah omong kosong atau mengibul. Selain itu, istilah ini juga memiliki konotasi negatif yang dapat merujuk pada sifat suka berbohong atau menipu, tergantung pada situasi di mana kata tersebut digunakan.
Penggunaan kata abuleke bukanlah hal baru bagi Bahlil. Namun, kali ini, istilah ini mencuri perhatian ketika dia mengungkapkannya dalam pidato pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Maluku pada Sabtu (7/11/2026). Dalam pidatonya, Bahlil menekankan, “Abuleke ini, asli Abuleke. Ini asli ilmu Abuleke,” menandakan ketidakpuasannya terhadap tudingan yang dialamatkan padanya.
Istilah abuleke diketahui sebagai ungkapan dalam bahasa lokal di wilayah Indonesia Timur, utamanya Maluku dan Papua. Berbagai sumber menjelaskan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang suka mengibul atau menipu, serta merujuk pada omong kosong.
Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini sering digunakan sebagai sindiran terhadap orang yang pernyataannya dianggap tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, makna abuleke dapat mencakup perilaku tidak jujur atau bermuka dua. Oleh karena itu, ungkapan ini tidak sekadar menyampaikan ketidaksetujuan tetapi juga mengandung nada sindiran yang cukup tajam.
Walau demikian, penting untuk dicatat bahwa penggunaan dan nuansa makna istilah ini bisa bervariasi, tergantung pada konteks dan daerah asal penggunaan. Oleh karenanya, arti dari abuleke sebaiknya dipahami berdasarkan situasi ketika kata tersebut diucapkan.
Bahlil mengeluarkan istilah abuleke sebagai respons terhadap narasi yang menuduhnya terlibat dalam dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia mempertanyakan kredibilitas tuduhan tersebut, mengingat bahwa sebelumnya ia juga mengaku menjadi korban penyadapan. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan, “Jadi ini mereka membangun persepsi, seolah-olah kita ada urusannya dengan penyadapan, gimana mungkin saya bisa ikut mengatur penyadapan sementara saya juga disadap.”
Ia mengaku baru mengetahui bahwa namanya disebut dalam narasi tersebut setelah kembali dari perjalanan. Dalam penjelasannya, Bahlil menemukan informasi mengenai adanya pertemuan antara beberapa jenderal dan ketua umum partai politik tiga jam sebelum penangkapan, yang sama sekali tidak dihadirinya. “Tiba-tiba ada satu cerita ngarang dari mana saya tidak tahu,” ujarnya, menekankan ketidakbenaran klaim yang dituduhkan padanya.
Dalam situasi politik yang penuh spekulasi ini, pernyataan Bahlil menunjukkan bagaimana istilah abuleke bukan hanya sekadar ungkapan, melainkan juga menjadi bagian dari retorika politik yang lebih luas, di mana berbagai pihak berusaha untuk mempertahankan posisi mereka di tengah berbagai tuduhan dan kontroversi. Seiring dengan semakin berkembangnya narasi politik ini, pilihan kata dan istilah yang digunakan oleh para tokoh politik pun menjadi sangat penting dalam membentuk opini publik.



Komentar