Politik & Pemerintahan
Beranda / Politik & Pemerintahan / Akses Pelabuhan Maloy Terancam, Dinas PU Siapkan Solusi untuk Jembatan Muara Lembak

Akses Pelabuhan Maloy Terancam, Dinas PU Siapkan Solusi untuk Jembatan Muara Lembak

Akses Pelabuhan Maloy Terancam, Dinas PU Siapkan Solusi untuk Jembatan Muara Lembak

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mempersiapkan langkah-langkah penanganan untuk Jembatan Muara Lembak yang terletak di Kabupaten Kutai Timur. Penanganan ini dilakukan setelah terdeteksi adanya deformasi pada struktur jembatan serta indikasi pergerakan tanah di kawasan sekitarnya.

Jembatan ini berfungsi sebagai satu-satunya akses menuju Pelabuhan Maloy, sehingga posisinya sangat strategis di jalur Jalan Nasional Simpang Perdau–Muara Lembak–Sangkulirang.

Saat ini, bagian oprit di sisi Simpang Perdau mengalami penurunan yang signifikan. Untuk memantau perkembangan kondisi struktur jembatan, Kementerian PU menggunakan teknologi glass crack monitor.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pentingnya komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas infrastruktur serta memastikan konektivitas antara jalan dan jembatan nasional tetap terjaga. Keselamatan masyarakat selalu menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan yang diambil di lapangan.

“Perbaikan dilakukan agar jembatan kembali aman dilalui sehingga konektivitas masyarakat dan distribusi logistik tetap terjaga,” ungkap Menteri Dody.

Kementerian PU Pastikan Pemulihan Konektivitas Jalan Nasional dan Daerah di NTT Pasca Gempa

Tim dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur telah melakukan pemeriksaan lapangan dan menemukan adanya deformasi sistemik di Jembatan Muara Lembak. Jembatan yang memiliki panjang 43 meter dan lebar 6 meter ini menunjukkan beberapa indikasi kerusakan, antara lain:

  • Kemiringan abutment sekitar 5 derajat.
  • Penurunan atau settlement pada oprit sekitar 40 sentimeter.
  • Pergeseran bangunan di sekitar jembatan.
  • Keretakan pada elemen minipile yang berada di bawah abutment.

Temuan tersebut menunjukkan adanya dugaan pergerakan tanah di sekitar jembatan, baik dalam arah vertikal maupun lateral. Kondisi tanah ini diyakini berkontribusi terhadap pergeseran dan rotasi abutmen serta sistem fondasi jembatan.

Untuk menindaklanjuti temuan ini, BBPJN Kaltim mendorong dilakukan evaluasi lebih mendalam terkait aspek geoteknik dan struktur jembatan. Kajian ini sangat penting untuk memahami mekanisme pergerakan tanah dan memastikan tingkat keamanan jembatan, yang menjadi dasar bagi penentuan metode penanganan permanen.

Penanganan permanen sangat diperlukan mengingat Jembatan Muara Lembak memiliki peran strategis sebagai akses utama menuju Pelabuhan Maloy. Keberadaan jembatan ini berkontribusi besar dalam menjaga konektivitas wilayah dan mendukung aktivitas pengguna jalan.

Sebelumnya, penanganan sementara pada oprit sisi Simpang Perdau telah dilaksanakan pada 5 Juli 2026. Namun, sekitar dua minggu kemudian, bagian oprit kembali mengalami settlement. Situasi ini memicu perlunya survei lanjutan yang lebih menyeluruh untuk merencanakan penanganan permanen yang tepat.

Menteri PUPR Perluas Satgas Bencana untuk Siaga Tangani Infrastruktur di Seluruh Indonesia

Melalui langkah-langkah ini, Kementerian PU tidak hanya berfokus pada pengamanan kondisi jembatan saat ini, tetapi juga memastikan bahwa solusi jangka panjang ditentukan berdasarkan kajian teknis yang komprehensif.

Dengan penanganan yang tepat, diharapkan Jembatan Muara Lembak dapat berfungsi kembali secara optimal, sehingga konektivitas di ruas jalan nasional menuju Sangkulirang dan Pelabuhan Maloy tetap terjaga. Aspek keselamatan dan kenyamanan bagi para pengguna jalan juga menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan penanganan ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan