Presiden Joko Widodo mengungkapkan perasaannya yang terluka akibat tuduhan ijazah palsu yang disampaikan oleh Roy Suryo dan beberapa pihak lainnya. Dalam persidangan yang berlangsung, ia menekankan bahwa pernyataan tersebut tidak hanya mencemari nama baiknya, tetapi juga berdampak pada reputasi keluarganya.
“Kerugian immaterial karena tercemarnya nama baik saya dan juga keluarga saya, dan kemudian saya juga merasa telah dihina, direndahkan dengan amat sangat,” ucap Jokowi di hadapan majelis hakim pada kesempatan itu.
Di dalam persidangan, Jokowi turut mengutip sebuah survei yang menunjukkan pandangan masyarakat mengenai tuduhan ijazah palsu tersebut. Dia menyatakan bahwa sekitar 18 persen dari populasi Indonesia mempercayai isu ini. Ketika Jokowi mengonversi angka tersebut ke dalam jumlah penduduk, hasilnya menunjukkan bahwa ada sekitar 34 juta orang yang percaya akan tuduhan tersebut.
“Seingat saya 18 persen masyarakat Indonesia percaya terhadap tuduhan ijazah palsu ini. Yang Mulia, 18 persen itu kalau dikonversi ke orang itu kurang lebih 34 juta orang percaya mengenai tuduhan ijazah palsu ini,” ungkapnya.
Jokowi menilai angka tersebut cukup signifikan dan mencerminkan berkurangnya tingkat kepercayaan publik terhadap dirinya. “Betul, Yang Mulia. 34 juta orang percaya, Yang Mulia, bahwa tuduhan palsu tuduhan ijazah palsu ini telah mengurangi kepercayaan publik terhadap saya, Yang Mulia,” tambahnya.
Namun, penting untuk dicatat bahwa angka 18 persen dan proyeksi mengenai 34 juta orang tersebut diambil dari survei yang disampaikan oleh Jokowi tanpa menyertakan informasi mengenai lembaga survei, waktu pelaksanaan, metode yang digunakan, ataupun jumlah responden yang terlibat.
Tak hanya berdampak pada reputasi dan kepercayaan publik, Jokowi juga merasa terus-menerus dituduh menggunakan ijazah palsu dalam berbagai ajang politik. Ia mengungkapkan bahwa tuduhan tersebut mengikutinya sejak pencalonannya sebagai wali kota, gubernur, hingga presiden.
“Kemudian yang ketiga juga saya merasa juga dituduh menggunakan ijazah palsu untuk mencalonkan diri sebagai wali kota dua kali, gubernur sekali, dan presiden dua kali, Yang Mulia,” tuturnya.
Tuduhan ini, menurut Jokowi, tidak hanya menyerang dirinya sebagai individu, tetapi juga menyentuh aspek keluarganya dan menciptakan stigma negatif di masyarakat. Dalam konteks ini, Jokowi berharap agar masyarakat bisa lebih kritis dan berhati-hati dalam menerima informasi yang tidak berdasar.
Sikap Jokowi yang terbuka dalam menghadapi tudingan ini menunjukkan keteguhannya dalam mempertahankan nama baik dan kredibilitasnya di hadapan publik. Ia berharap agar semua pihak dapat menghargai proses hukum yang sedang berlangsung dan memberi ruang bagi keadilan untuk ditegakkan.



Komentar