Kementerian Kesehatan mencatat adanya 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Di antara provinsi tersebut, Kalimantan Barat menjadi salah satu yang menunjukkan tren peningkatan kasus yang signifikan.
Widyawati, Juru Bicara Kemenkes, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan hasil pemantauan hingga tanggal 2 November 2026 pada pukul 16.00 WIB. Pada hari yang sama juga dilaporkan tambahan 3.906 kasus ISPA.
“Data dari pemantauan Kementerian Kesehatan per 2 November 2026 pukul 4 sore, tercatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Khususnya di tanggal 2 November, terdapat penambahan 3.906 kasus,” jelas Widyawati dalam konferensi pers.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa perkembangan kasus ISPA bervariasi di berbagai wilayah. Sementara Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau menunjukkan penurunan jumlah kasus, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat masih mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan.
Widyawati menekankan pentingnya perhatian terhadap situasi di Kalimantan Timur, yang secara khusus menjadi sorotan. “Dua provinsi lainnya, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan. Kondisi di Kaltim menjadi perhatian serius memang,” tuturnya.
Walaupun beberapa daerah lainnya telah mulai mencatat penurunan, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Paparan asap dari karhutla masih berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Dari total 401.586 kasus ISPA yang tercatat, sebanyak 91.913 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Selain itu, kelompok anak berusia 6–9 tahun mencatat 87.704 kasus, sedangkan lansia di atas 60 tahun mencapai 56.092 kasus.
Kementerian Kesehatan juga memperhatikan kelompok masyarakat lain yang berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla. Rincian kelompok tersebut mencakup 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, dan 8.086 pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Widyawati kembali mengingatkan bahwa gangguan pernapasan, termasuk pneumonia, memerlukan perhatian serta penanganan medis yang serius. “Pneumonia itu merupakan gangguan kesehatan yang serius dan memerlukan penanganan medis, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid,” ujarnya.
Pemerintah tidak hanya memantau kasus ISPA tetapi juga kualitas udara di area yang terkena dampak karhutla. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 3 November 2026 pada pukul 09.00 WIB, terdapat dua kabupaten/kota yang kualitas udaranya masuk dalam kategori berbahaya, sementara 15 kabupaten/kota lainnya berada dalam kategori tidak sehat.
Penanganan serius terhadap isu kesehatan ini sangat penting, terutama di saat kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan lahan. Mengingat bahwa dampak yang ditimbulkan tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik tetapi juga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan, kolaborasi antara berbagai pihak diperlukan untuk menanggulangi permasalahan ini secara efektif.



Komentar