Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan armada udara dari Kalimantan untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk mengatasi situasi darurat yang meresahkan masyarakat dan lingkungan.
Bantuan ini mencakup helikopter water bombing yang berasal dari Kalimantan Selatan serta pesawat yang akan digunakan dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Kalimantan Barat. Upaya ini bertujuan untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di lokasi-lokasi seperti Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, dan Ijen. BNPB berharap dengan adanya tambahan dukungan ini, api yang berkobar dapat segera dipadamkan dan tidak menyebar ke area lain.
Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi, menyatakan bahwa penambahan armada udara merupakan bagian integral dari upaya memperkuat penanganan karhutla di Jawa Timur. “Kita harapkan dengan tambahan alutsista ini, kita bisa dengan cepat dan kebakaran pun tidak membara atau meluas,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis pada hari Jumat.
Kristomei menjelaskan bahwa BNPB telah mengirimkan satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan ke Malang untuk memberikan bantuan. Selain itu, satu pesawat juga dikerahkan dari Kalimantan Barat sebagai dukungan dalam Operasi Modifikasi Cuaca. Dengan demikian, kedua armada ini diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman kebakaran di daerah pegunungan yang memiliki akses yang sulit dijangkau oleh tim pemadam kebakaran.
Dukungan udara ini menjadi salah satu strategi penting untuk membantu petugas dalam menghadapi titik-titik api di tengah kondisi cuaca yang ekstrem. Berdasarkan catatan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pesawat water bombing telah melaksanakan sebanyak 462 penerbangan untuk membantu memadamkan api yang muncul di berbagai lokasi.
Selain itu, penanganan karhutla juga memanfaatkan teknologi drone dengan sistem water spray yang memiliki kapasitas 100 liter. Teknologi ini sangat berguna untuk menjangkau area dengan tebing curam yang sulit diakses oleh tim pemadam melalui jalur darat, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam memadamkan api.
BNPB mencatat bahwa selama masa siaga darurat, karhutla telah melanda hingga 26 kabupaten dan kota di Jawa Timur, dengan total kejadian mencapai 184. Luas area yang terbakar mencapai 11.449 hektare, dan sekitar 77,05 persen dari luas tersebut berada di kawasan hutan konservasi.
Statistik ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman kebakaran hutan yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat akibat asap yang dihasilkan. Oleh karena itu, langkah-langkah cepat dan efektif sangat diperlukan untuk mencegah kebakaran ini semakin meluas dan menyebabkan dampak yang lebih parah.
Kerjasama antara berbagai pihak, seperti BNPB, pemerintah daerah, serta masyarakat, sangat penting dalam upaya penanganan karhutla. Kesadaran masyarakat mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan juga perlu ditingkatkan agar bisa bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran yang lebih besar di masa mendatang.



Komentar