Regenerasi kepemimpinan tidak hanya berkisar pada pergantian usia. Dalam konteks ini, kapasitas, integritas, dan kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab adalah hal yang fundamental bagi seorang pemimpin.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Afdhal, pendiri Bandung Renaissance Forum, saat mengulas buku tentang kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam sebuah diskusi publik yang berlangsung di Kanz Cafe di Baleendah, Kabupaten Bandung, pada Jumat (30/10/2026).
Dalam forum tersebut, Dr. Afdhal mengingatkan generasi muda agar tidak melihat regenerasi kepemimpinan semata-mata dari sudut pandang usia. Ia menekankan bahwa usia muda tidak otomatis menjadikan seseorang layak untuk memimpin.
“Buat saya, sebetulnya bukan soal muda atau tua. Karena yang muda juga banyak yang mengalami kecelakaan, dan yang tua juga banyak yang mengalami kecelakaan. Pertanyaannya, pemuda seperti apa dulu? Pada momentum Sumpah Pemuda, tentu kita sangat menanti kaum muda yang membawa perubahan bagi negeri ini. Namun, banyak juga kaum muda yang tidak capable, tidak terdidik, tidak memiliki kapasitas, dan integritasnya dipertanyakan. Tentu bukan asal muda yang kita dambakan,” ungkap Dr. Afdhal.
Selanjutnya, Dr. Afdhal melihat buku Kepemimpinan AHY sebagai sumber yang berharga untuk menelusuri perjalanan seorang tokoh muda dari berbagai perspektif. Buku ini diharapkan dapat diapresiasi oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi, aktivis, hingga mahasiswa.
Rekam jejak AHY dianggap sebagai referensi yang dapat memberikan pelajaran tentang pentingnya mempertahankan prinsip, menghadapi tantangan, serta mengalihkan pengabdian dari ranah militer ke sipil.
“Buku ini sangat cocok untuk kaum muda yang ingin bermuhasabah diri. Kita bisa melihat bagaimana seorang tokoh muda seperti AHY saja mau bekerja keras, terus-menerus meningkatkan kapasitas diri, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan serta ancaman hingga berhasil meraih apresiasi dan kepercayaan di berbagai posisi strategis. Ini menjadi contoh nyata bahwa keberhasilan itu dibangun atas dasar proses, etos kerja, dan kepatuhan pada aturan,” tambah Dr. Afdhal.
Kegiatan bedah buku ini digagas oleh Sinergi Generasi Muda (SIGMA) bekerja sama dengan Bandung Renaissance Forum (BRIF) bertujuan untuk memperluas budaya membaca serta menciptakan ruang yang kondusif untuk pertukaran gagasan yang konstruktif.
Melalui acara ini, generasi milenial dan Gen Z diajak untuk lebih mengenal kepemimpinan melalui diskusi yang terbuka dan berbasis pemikiran kritis.
Penyunting buku sekaligus Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Dr. Herzaky Mahendra Putra, menjelaskan bahwa perjalanan kepemimpinan AHY merupakan salah satu fokus utama dalam buku tersebut.
Pengalaman dan transformasi yang dialami AHY diangkat sebagai kajian untuk membuka diskursus tentang kepemimpinan di tengah berbagai tantangan yang kompleks di negara ini.
“Buku ini disusun oleh 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda Indonesia untuk membuka diskursus kepemimpinan yang objektif berbasis data dan fakta. Kami ingin anak-anak muda menggali inspirasi dari rekam jejak kerja nyata yang melampaui zamannya, bukan sekadar dibentuk oleh popularitas sesaat di media sosial,” pungkas Herzaky.
Buku Kepemimpinan AHY pertama kali diluncurkan pada 23 September 2026, menjadi kejutan yang istimewa untuk Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di hari ulang tahunnya yang dipersiapkan tanpa sepengetahuannya. Karya ini melibatkan 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda dari berbagai disiplin ilmu untuk mendokumentasikan perjalanan serta transformasi kepemimpinan AHY.
Acara peluncuran buku ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, menteri, pimpinan lembaga, tokoh nasional, tokoh politik, akademisi, pengamat, serta perwakilan dari generasi muda.



Komentar