Cesc Fabregas semakin menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih setelah membawa Como 1907 meraih kemenangan telak 9-1 atas RC Lens dalam lanjutan UEFA Champions League 2026/2027.
Bertanding di Stadion Bollaert-Delelis, Como menunjukkan dominasi mereka dengan permainan berkualitas yang membuat tim tuan rumah kesulitan sepanjang laga.
Kemenangan ini bukan hanya sekadar angka yang mengesankan; hasil ini juga mencerminkan kemajuan Como di bawah bimbingan Fabregas, yang mulai membangun identitas permainan berbasis penguasaan bola dan karakter menyerang.
Sebelumnya dikenal sebagai gelandang andalan di Barcelona, Arsenal, dan Chelsea, Fabregas kini mulai menarik perhatian publik melalui kepemimpinannya di dunia pelatihan.
Pengalaman yang panjang bermain di klub-klub besar Eropa tampaknya memberi pengaruh besar terhadap metode Fabregas dalam mengembangkan Como. Ia berupaya menerapkan gaya bermain proaktif yang menekankan pada penguasaan bola, pergerakan tim, kreativitas di lini tengah, serta keberanian untuk mengambil inisiatif dalam menyerang.
Pendekatan ini terlihat jelas saat Como menghadapi Lens, di mana mereka tidak hanya mengandalkan serangan balik, tapi juga mampu membangun serangan dengan terorganisir, serta memanfaatkan ruang yang tersedia di pertahanan lawan.
Keahlian membaca permainan menjadi salah satu aspek kunci dalam strategi Fabregas. Sebagai mantan gelandang, ia mengerti bagaimana cara mendistribusikan bola dengan baik, menemukan celah di antara lini pertahanan, dan mengatur tempo permainan sesuai dengan kebutuhan tim.
Pemahaman tersebut kini diterapkan dalam sistem permainan yang harus dijalankan oleh semua pemain Como.
Nico Paz menjadi salah satu elemen vital dalam menciptakan kreativitas serangan. Ia mampu menawarkan pilihan dalam distribusi bola dan membuka ruang bagi rekan-rekannya di lini depan. Di sisi lain, Anastasios Douvikas menjalankan peran sebagai finisher dengan sangat efektif, bahkan mencetak hattrick dalam laga melawan Lens.
Meski demikian, produktivitas Como tidak hanya bergantung pada Douvikas. Gol-gol juga dicetak oleh Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, dan Matteo Papaccioli, menunjukkan bahwa Como memiliki banyak sumber ancaman. Hal ini membuat lawan tidak bisa hanya fokus menghentikan satu pemain, karena ancaman dapat datang dari berbagai posisi.
Inilah salah satu kekuatan yang mulai dikembangkan oleh Fabregas. Variasi dalam serangan memungkinkan Como memiliki lebih banyak opsi saat menghadapi pertahanan lawan dengan pendekatan berbeda.
Selain taktik menyerang, aspek lain yang menarik dari kepelatihan Fabregas adalah keberaniannya memberikan peluang kepada pemain muda. Matteo Papaccioli adalah contoh yang menonjol, di mana pemain berusia 18 tahun ini berhasil mencetak gol ke sembilan Como pada menit ke-90+1, menandai debutnya di Liga Champions dengan kontribusi positif.
Mattia Liberali juga menunjukkan peran penting para pemain muda dalam skuad Como dengan mencetak gol. Keputusan untuk memberikan kesempatan kepada pemain muda menunjukkan bahwa pembangunan tim Como tidak hanya berorientasi pada hasil instan, tetapi juga untuk regenerasi dan memperdalam kualitas skuad agar mampu bersaing di tengah padatnya jadwal pertandingan.
Tentu saja, keberhasilan regenerasi tidak hanya diukur dari menit bermain, melainkan juga dari konsistensi, pengembangan kemampuan, dan kesiapan menghadapi tekanan persaingan.
Perkembangan Como di bawah Fabregas semakin terlihat jika dilihat dari perjalanan mereka di Liga Champions musim ini. Dari empat laga di fase grup, Como telah mengumpulkan sembilan poin berkat tiga kemenangan. Sebelum kemenangan besar atas Lens, Como juga berhasil mengalahkan RB Leipzig dan Manchester United dengan skor 4-1.
Dengan koleksi 19 gol, Como kini menempati posisi keempat klasemen sementara, yang menunjukkan produktivitas lini serang yang impresif untuk sebuah klub yang baru menjalani debut di kompetisi ini.
Namun, kesuksesan Fabregas tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar angka kemenangan. Yang lebih krusial adalah bagaimana ia membangun sistem permainan yang dapat diterapkan secara konsisten.
Como masih perlu membuktikan kemampuan mereka untuk mempertahankan kualitas permainan saat menghadapi tim yang lebih disiplin dan berpengalaman di Eropa. Keseimbangan antara menyerang dan bertahan juga penting, karena tim yang berorientasi menyerang memerlukan organisasi pertahanan yang kuat agar tidak mudah kehilangan kendali di bawah tekanan.
Kemenangan 9-1 atas Lens memberikan momentum besar bagi Fabregas dan Como, tetapi juga meningkatkan ekspektasi terhadap kemampuan sang pelatih. Liga Champions bukan kompetisi yang bisa ditaklukkan dengan mengandalkan satu atau dua pertandingan spektakuler; konsistensi dalam menghadapi berbagai karakter lawan adalah ukuran sesungguhnya.
Fabregas harus memastikan filosofi permainan yang diterapkannya tetap berjalan saat Como dihadapkan pada situasi sulit, termasuk saat lawan memberikan tekanan sejak awal atau memaksa mereka untuk bermain tanpa penguasaan bola. Kemampuan untuk melakukan penyesuaian taktik juga akan menjadi kunci bagi perkembangan Como di masa mendatang.
Di sisi lain, proyek pembangunan tim memerlukan kesabaran. Como harus menjaga kualitas skuad, mengembangkan pemain muda, dan mempertahankan identitas permainan yang mulai terbentuk.
Kemenangan atas Lens menjadi bukti bahwa Como bukan sekadar pendatang baru yang sekadar mencari pengalaman di Liga Champions. Mereka mulai menunjukkan kapasitas untuk bersaing dan memberi kejutan kepada klub-klub berpengalaman di Eropa.
Bagi Fabregas, tantangan berikutnya adalah mengubah sensasi kemenangan ini menjadi prestasi yang berkelanjutan. Jika ia mampu menjaga konsistensi, memperdalam skuad, dan mempertahankan identitas permainan, proyek sepak bola yang dibangunnya memiliki potensi untuk membawa Como menjadi salah satu kekuatan baru yang diperhitungkan di Eropa.



Komentar