Berita Nasional
Beranda / Berita Nasional / Pengertian Error Level Analysis yang Digunakan Roy Suryo untuk Menganalisis Ijazah Jokowi

Pengertian Error Level Analysis yang Digunakan Roy Suryo untuk Menganalisis Ijazah Jokowi

Pengertian Error Level Analysis yang Digunakan Roy Suryo untuk Menganalisis Ijazah Jokowi

Error Level Analysis (ELA) adalah metode forensik digital yang menjadi perhatian dalam perdebatan mengenai keaslian ijazah Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia. Teknik ini digunakan untuk menganalisis kemungkinan adanya manipulasi pada gambar digital dengan cara mengidentifikasi perbedaan tingkat kompresi yang terdapat dalam gambar.

Metode ini mulai mendapat sorotan setelah Roy Suryo menerapkan analisis digital untuk memeriksa dokumen ijazah Jokowi. Polemik tersebut kemudian berlanjut ke ranah hukum, dengan Roy Suryo dan dokter Tifa sebagai terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Error Level Analysis? Bagaimana cara kerjanya, dan seberapa efektif metode ini dalam mendeteksi adanya manipulasi pada dokumen digital?

Error Level Analysis atau ELA adalah teknik yang digunakan dalam forensik digital untuk mendeteksi kemungkinan adanya perubahan atau manipulasi pada gambar digital, khususnya yang berformat JPEG.

Berdasarkan penjelasan dari UPI, teknik ini beroperasi dengan prinsip bahwa gambar JPEG yang disimpan ulang dengan tingkat kompresi tertentu akan menghasilkan pola kompresi yang relatif seragam. Namun, bagian gambar yang mengalami penyuntingan biasanya akan menunjukkan perbedaan pola kompresi jika dibandingkan dengan area lainnya.

Istana Waspadai Ancaman Penyadapan Usai Kasus Prabowo, Prasetyo: Terus Lakukan Bersih-Bersih

Dengan cara membandingkan gambar asli dan gambar yang telah disimpan ulang, ELA dapat menghasilkan peta kesalahan atau error map. Peta ini menunjukkan perbedaan tingkat kompresi di berbagai bagian gambar dan area yang tampak mencolok dapat menjadi indikasi adanya perubahan. Meski demikian, perbedaan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa gambar telah dimanipulasi.

Proses analisis menggunakan ELA biasanya terdiri dari tiga langkah utama:

  1. Menyimpan ulang gambar

Langkah pertama adalah menyimpan ulang gambar digital dengan tingkat kompresi JPEG tertentu. Proses ini menjadi titik awal untuk mengamati perubahan pola kompresi pada gambar.

  1. Menghitung perbedaan gambar

Selanjutnya, sistem akan membandingkan gambar asli dengan hasil penyimpanan ulang. Perbandingan ini digunakan untuk menemukan perbedaan tingkat kompresi pada berbagai bagian gambar.

  1. Membuat peta kesalahan

Hasil dari perbandingan tersebut akan ditampilkan dalam bentuk error map. Peta ini akan menunjukkan area yang memiliki tingkat kesalahan atau perbedaan kompresi tertentu. Bagian yang tampak lebih menonjol pada peta dapat menjadi petunjuk awal bagi pemeriksa untuk melakukan analisis lebih lanjut. Namun, hasil ini harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena perbedaan kompresi tidak selalu disebabkan oleh manipulasi.

PPPK Paruh Waktu Bakal Diangkat Penuh Waktu Mulai 2027

Dalam konteks forensik digital, ELA memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Membantu verifikasi keaslian gambar

ELA dapat digunakan untuk mengidentifikasi bagian gambar yang memiliki pola kompresi berbeda dan berpotensi mengalami penyuntingan.

  1. Menganalisis kemungkinan perubahan dokumen

Teknik ini juga dapat diterapkan untuk menelusuri kemungkinan adanya perubahan pada elemen visual dokumen, seperti tanda tangan, cap, atau teks.

  1. Mendukung investigasi digital

Hasil dari ELA dapat menjadi bagian dari analisis dalam proses pemeriksaan keaslian gambar atau dokumen digital. Penggunaan ELA juga dapat dipadukan dengan metode forensik digital lainnya untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dan akurat.

Kasus Penyadapan Prabowo: PKB Desak Polri Periksa Elite Politik dengan Berani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan