Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa mitigasi risiko harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya mengejar biaya awal yang rendah, tetapi harus mengutamakan keselamatan masyarakat dan nilai manfaat jangka panjang.
AHY menyampaikan pesan tersebut dalam Keynote Address pada Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-30 Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dalam forum bertema ‘From Uncertainty to Engineering Decisions: Geotechnical Risk-Based Design’, AHY menilai bahwa pemerintah dan para insinyur menghadapi tantangan serupa, yaitu mengambil keputusan penting di tengah keterbatasan informasi, sumber daya, dan risiko yang sulit diprediksi.
Untuk itu, AHY menyampaikan tiga prinsip penting dalam pembangunan infrastruktur berbasis risiko.
Pertama, mengantisipasi risiko sebelum berkembang menjadi kegagalan.
Investigasi teknis, kajian mendalam, dan langkah pencegahan harus dipandang sebagai investasi, bukan sebagai pengeluaran yang tidak diperlukan.
Kedua, mengutamakan nilai manfaat jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar biaya pembangunan paling rendah.
Menurut AHY, solusi yang paling murah pada tahap awal belum tentu menjadi pilihan paling efisien dalam jangka panjang apabila mengabaikan aspek keselamatan dan ketahanan infrastruktur.
Ketiga, memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung setelah konstruksi selesai.
Pemantauan, pemeliharaan, dan adaptasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari pengelolaan infrastruktur yang bertanggung jawab.
“Good engineering is about more than controlling costs. It is about managing risks, protecting lives, and creating lasting value,” tegas AHY.
AHY juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman menghadapi bencana yang memberikan pelajaran penting mengenai kerentanan infrastruktur.
Gempa bumi dan likuefaksi di Palu pada 2018 serta bencana hidrometeorologi berat di Sumatera pada 2025 menunjukkan bahwa bencana alam dapat berdampak besar pada kehidupan masyarakat.
Infrastruktur yang rusak bukan sekadar persoalan fisik.
Jembatan yang terputus dapat mengisolasi masyarakat, jalan yang terhambat dapat mengganggu distribusi pangan, sementara kerusakan sistem air dapat berdampak terhadap ribuan keluarga.
Karena itu, AHY menekankan bahwa pendekatan pembangunan dan pengelolaan infrastruktur harus mencakup empat aspek, yaitu pencegahan, kesiapsiagaan, penilaian darurat, dan pemulihan.
Dalam pemulihan pascabencana, pemerintah perlu menerapkan prinsip Build Back Better, yaitu membangun kembali infrastruktur dengan lebih baik dan mengurangi kerentanan terhadap bencana.
Prinsip ini berarti pembangunan kembali tidak hanya menggantikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga mengurangi kerentanannya terhadap ancaman bencana pada masa mendatang.
Lebih lanjut, AHY melihat perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pemodelan digital, sensor, dan pemantauan secara real-time memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan dalam memahami dan mengelola risiko infrastruktur.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tetap membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan berintegritas.
AHY mendorong HATTI untuk terus memperkuat penelitian, standar profesional, serta kerja sama antara dunia akademik, industri, dan pemerintah.
Ia juga mengajak para ahli untuk aktif menyampaikan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan kepada para pengambil kebijakan.
“Kita membutuhkan para insinyur dengan kompetensi, kreativitas, dan integritas. Kita juga membutuhkan institusi yang mau mendengarkan mereka. Karena kebijakan publik yang baik membutuhkan ilmu pengetahuan yang kuat,” ujar AHY.
AHY menegaskan bahwa kecepatan pembangunan harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan keselamatan.
Dengan perencanaan berbasis risiko, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan inovasi teknologi, Indonesia dapat membangun infrastruktur yang lebih aman dan tangguh untuk menghadapi tantangan masa depan. (hen)



Komentar