PDI Perjuangan (PDIP) memberikan perhatian serius terhadap unggahan ulang dari akun Instagram resmi Presiden Joko Widodo yang mengangkat isu Melva Pardede. Partai tersebut menganggap konten yang dibagikan mengandung informasi yang tidak akurat serta menggunakan citra yang diduga hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan.
Konten tersebut awalnya diposting oleh akun Instagram @spill.id17. Dalam unggahan itu, status Melva Pardede sebagai pengemudi ojek online dipertanyakan dan dikaitkan dengan PDI Perjuangan. Setelah diposting, konten ini kemudian dibagikan ulang oleh akun resmi Jokowi sebelum akhirnya dihapus oleh pengelola akun.
PDIP menekankan bahwa kejadian ini menunjukkan pentingnya melakukan verifikasi informasi sebelum membagikan konten yang berasal dari akun tokoh publik. Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menjelaskan bahwa Melva Pardede bukanlah kader resmi partai dan menegaskan bahwa gambar yang digunakan dalam narasi tersebut merupakan hasil manipulasi AI.
“Akun Instagram atas nama Jokowi seharusnya menjadi sumber informasi yang menyejukkan. Sayangnya, akun itu justru memperkeruh keadaan dengan memposting ulang konten hoax yang menuduh Melva Pardede sebagai kader PDIP Perjuangan,” ungkap Guntur saat dikonfirmasi.
Guntur juga mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kejanggalan dalam visual yang beredar. Salah satunya adalah identitas pakaian merah yang dikenakan oleh sosok dalam foto. Ia berpendapat bahwa penggunaan tulisan “PDIP” tidak sesuai dengan identitas resmi partai yang menerapkan nama PDI Perjuangan.
Lebih lanjut, Guntur menegaskan bahwa Melva Pardede tidak terdaftar sebagai kader resmi PDIP dan tidak memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA). “Melva Pardede tidak terdaftar sebagai kader resmi dan tidak memiliki KTA PDI Perjuangan,” tegasnya.
PDIP khawatir penyebaran gambar tersebut tidak hanya merusak identitas Melva Pardede, tetapi juga berpotensi mencoreng nama partai melalui informasi yang belum terverifikasi. Guntur bahkan menyebut narasi itu sebagai “fitnah ganda” karena adanya upaya untuk mengaitkan Melva dengan identitas politik tertentu.
Ia juga mencatat bahwa narasi sejenis ditemukan di beberapa akun media sosial lain, termasuk Facebook, di mana konten tersebut digunakan untuk menyerang citra PDI Perjuangan.
Sorotan PDIP juga tertuju pada pengelolaan akun Instagram Jokowi. Mengingat akun tersebut adalah milik mantan Presiden, setiap konten yang dibagikan memiliki potensi untuk menjangkau audiens yang luas. Oleh karena itu, PDIP berpendapat bahwa proses pemeriksaan fakta seharusnya dilaksanakan sebelum sebuah unggahan dari akun lain dibagikan ulang.
Kejadian ini mengingatkan kita akan tanggung jawab yang menyertai sebuah akun publik. Dalam era informasi yang begitu cepat, penting bagi siapa pun yang memiliki pengaruh untuk memastikan bahwa konten yang mereka bagikan adalah akurat dan tidak menyesatkan. Penanganan yang lebih hati-hati terhadap informasi sebelum disebarluaskan dapat membantu mengurangi risiko penyebaran berita palsu yang dapat membahayakan individu maupun institusi.



Komentar