995 kali gempa bumi susulan mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah terjadinya gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Data terbaru ini diperoleh hingga Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 15.00 WIB.
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menjelaskan bahwa informasi tersebut bersumber dari pemantauan yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Dari BMKG itu untuk gempa susulan hingga tanggal 16 Agustus pukul 15.00 WIB, total gempa susulan berjumlah 995 kali,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers yang diadakan pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Dari total ratusan gempa susulan yang tercatat, tidak semua dirasakan oleh masyarakat setempat. BNPB mencatat bahwa hanya 46 dari gempa susulan tersebut yang felt oleh warga.
Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah gempa yang dirasakan masyarakat kurang dari 10 persen dari total aktivitas gempa susulan yang telah terjadi setelah gempa utama.
Abdul menjelaskan lebih lanjut bahwa kemunculan gempa susulan adalah bagian dari proses alami setelah terjadinya gempa besar. Struktur patahan memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi yang lebih stabil setelah melepaskan energi dalam jumlah besar.
“Yang perlu kita pahami, gempa susulan ini diperlukan oleh struktur patahan gempa yang terjadi untuk kembali menjadi stabil. Jadi ini adalah fenomena alam yang memang harus kita lalui dan kita harapkan energi yang lepas bisa segera meluruh sehingga gempa susulan tidak lagi signifikan dan tidak lagi dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Para warga di daerah yang terdampak diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah terkait perkembangan aktivitas gempa yang berlangsung.
Saat aktivitas gempa susulan masih berlangsung, BNPB melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gempa utama telah mencapai 53 orang hingga Minggu sore.
Korban tersebut tersebar di berbagai wilayah, dengan Kabupaten Manggarai mencatat jumlah tertinggi yaitu 25 orang, diikuti oleh Kabupaten Manggarai Timur dengan 20 orang.
Sementara itu, di Sikka terdapat empat orang yang meninggal dunia, dua orang di Ende, serta masing-masing satu orang di Manggarai Barat dan Nagekeo.
Selain korban jiwa, sebanyak 135 orang lainnya mengalami luka-luka dan saat ini masih mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan setempat.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk memberikan segera bantuan dan penanganan yang tepat bagi masyarakat yang terdampak. Setiap langkah penanganan diharapkan dapat meminimalkan dampak yang lebih luas dari bencana ini.



Komentar